Pencarian Ilmu (Isi langsung tekan "Enter")

Kronologi Krisis PLTN Fukushima Jepang

NUCLEAR ENERGY INSTITUTE (NEI)

PRESS RELEASE

JUM’AT

UPDATE PUKUL 8 A.M. EST

Gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter (SR) mengguncang Jepang pada 11 Maret 2011 pukul 14.46, berpusat di lepas pantai wilayah Sendai, dimana ibukota Tokyo berada. Kejadian ini diikuti efek sekunder berupa tsunami dan kebakaran hebat pada fasilitas bahan bakar fosil. Gempa terjadi hanya 2 hari setelah gempa berkekuatan 7,3 SR mengguncang lepas pantai pada wilayah tersebut.

Japan Atomic Industry Forum (JAIF) mengeluarkan pernyataan bahwa 11 reaktor nuklir yang terletak pada wilayah timur laut Jepang yang saat itu beroperasi telah berhenti beroperasi (shut-down) secara otomatis. Nuclear and Industrial Safety Agency (NISA) juga menyatakan hingga pukul 15.16 waktu setempat tidak ada laporan kerusakan pada fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan menngeluarkan pernyataan pada televisi bahwa tidak ada indikasi pelepasan radioaktif.

Tokyo Electric Power Company (TEPCO) menyatakan bahwa generator diesel darurat berfungsi seperti yang diharapkan, namun kemudian berhenti setelah bekerja satu jam dan seluruh daya darurat yang dibutuhkan hilang, yang memicu mereka untuk memperingatkan pemerintah potensi situasi “darurat”, dimana otoritas lokal dapat mengambil tindakan yang dibutuhkan terhadap komunitas sekitar dan mengevakuasi mereka jika dibutuhkan. Sekitar sembilan jam setelah itu, Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI) menyatakan tiga dari empat modul power supply mobile sudah sampai pada lokasi pembangkit untuk menyuplai daya darurat yang dibutuhkan dan para petugas mulai menghubungkan sistem daya. Modul suplai lainnya dikirim melalui udara. NISA mencatat bahwa emisi dari exhaust stack (cerobong pengeluaran) menunjukkan tidak adanya peningkatan radioaktivitas.

Tohoku Electric Power Company juga melaporkan adanya kebakaran pada bangunan turbin (non nuklir) pada PLTN Onagawa Unit 1.

Peringatan tsunami dikeluarkan untuk seluruh wilayah Lautan Pasifik, termasuk Taiwan dimana beroperasi enam reaktor nuklir. Tidak ada ancaman tsunami bagi PLTN di wilayah Korea Selatan dan Cina.

UPDATE PUKUL 5 P.M.

Tekanan di dalam kontainmen Unit 1 PLTN Fukushima Daiichi dilaporkan meningkat sejak sistem pendingin reaktor darurat tidak aktif. TEPCO melaporkan pada pukul 02.00 watu setempat tekanan meningkat melebihi level referensi pembangkit, namun masih dalam batas toleransi engineering. Perusahaan menyatakan akan mengurangi tekanan dalam kontainmen “untuk unit-unit yang tidak dapat menjamin level air yang ditentukan” dengan sistem keselamatan. “Kami akan mengontrol unit-unit tersebut dan melanjutkan monitoring lingkungan di sekitar fasilitas”, demikian dinyatakan press release TEPCO.

Federasi Perusahaan Listrik Jepang mengeluarkan pernyataan yang mengindikasikan bahwa “sedikit uap radioaktif akan dikeluarkan melalui sistem filter dan dikeluarkan melalui cerobong ventilasi.” TEPCO “yakin bahwa pelepasan terkendali ini akan membantu kestabilan bejana kontainmen reaktor sekaligus tidak menimbulkan efek pada kesehatan atau lingkungan.”

Setelah kejadian gempa Jepang, Pacific Gas & Electric mengumumkan peristiwa tidak biasa pada pembangkit Diablo Canyon, yang terletak dekat San Luis Obispo, California sebagai tindakan pencegahan bagi potensi bencana tsunami. “Seluruh sistem keselamatan pembangkit dan komponen berfungsi normal dan kedua unit saat ini beroperasi pada daya 100 persen”, demikian dilaporkan PG&E.

Southern California Edison menyatakan bahwa pembangkit San Onofre yang terletak di Pantai San Onofre, California tetap beroperasi dalam kondisi aman dan peringatan tsunami tetap berlaku pada wilayah tersebut. “Pembangkit San Onofre dilaporkan tidak mengalami anomali aktivitas”, demikian laporan perusahaan tersebut, “Seluruh operasi berlangsung normal. Sistem perlindungan pembangkit mencakup dinding beton 30 kaki di atas permukaan laut.”

SABTU

UPDATE 8 A.M. EST

NEI berkoordinasi dengan Institute of Nuclear Power Operations (INPO) dan Electric Power Research Institute (EPRI) pagi ini dan akan segera memberi update informasi terkait situasi di Jepang.

UPDATE 9:30 A.M. EST

TEPCO menyatakan telah berhasil mengeluarkan udara (vented) dari kontainmen PLTN Fukhusima-Daiichi Unit 1, berdasarkan sumber beberapa industri.

Sekretaris Kabinet Jepang, Yukio Edano menyatakan dalam konferensi pers bahwa telah terjadi ledakan pada PLTN Fukushima-Daiichi pada pukul 15.36 waktu setempat, namun ia menyatakan ledakan tersebut tidak mempengaruhi sistem primer reaktor maupun kontainmen, hal ini dilaporkan lembaga berita NucNet pagi ini.

Edano menyatakan bahwa terjadi ledakan hidrogen di ruang antara pengungkung beton dan sistem primer reaktor, namun ledakan ini tidak merusak fungsi pengungkung atau sistem reaktor. Sebagian dari bahan bakar dalam reaktor tidak tertutup air dan TEPCO menyuntikkan air laut serta boric acid untuk menanggulanginya. Pengukuran radiasi di sekitar fasilitas PLTN Fukushima Daiichi menunjukkan level radioaktivitas sebesar 1,1 milirem per jam, namun kemudian turun menjadi 7 milirem per jam beberapa jam setelah ledakan.

TEPCO juga menyiapkan proses venting (pengeluaran uap) dari struktur kontainmen Fukushima Daiichi 2 dan 3, pada hari Sabtu.

Edano menyatakan, “Kami telah mendapatkan konfirmasi bahwa kontainer reaktor tidak mengalami kerusakan. Ledakan tidak terjadi di dalam kontainer reaktor. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada radiasi dalam jumlah besar yang bocor keluar.”

Pemerintah Jepang memperluas wilayah evakuasi menjadi 20 km atau 12 mil dari sekitar fasilitas PLTN.

Generator diesel cadangan dan baterai cadangan tiba di reaktor Fukushima Daiichi.

AS membantu Jepang dalam mengatasi peristiwa PLTN dan gempa termasuk asistensi dari industri dan US NRC (Komisi Pengawas Nuklir AS).

TEPCO juga berusaha untuk menjaga kondisi aman pada PLTN Fukushima Daini Unit 1, 2 dan 3 yang mengalami kehilangan fungsi kendali tekanan.

Fasilitas nuklir ini mengalami kerusakan pasca gempa berkekuatan 8,9 SR pada 11 Maret yang berpusat di lepas pantai wilayah Sendai, dimana ibukota Tokyo berada. Efek sekunder serius terjadi termasuk tsunami besar, kerusakan gempa yang signifikan dan kebakaran hebat pada instalasi bahan bakar fosil.

UPDATE 12:30 P.M. EST

Insiden pada PLTN Fukushima Daiichi digolongkan pada level 4 pada Skala Peristiwa Nuklir dan Radiologik Internasional (International Nuclear and Radiological Event Scale (INES)) berdasarkan standar dari International Atomic Energy Agency’s (IAEA) , lebih rendah dari peristiwa bencana Chernobyl 1986 (INES level 7) dan kecelakaan Three Mile Island 1979 (level 5).

Otoritas Jepang tidak memberikan pengukuran radiasi dalam laporan INES mereka kepada IAEA, namun operator PLTN TEPCO melaporkan bahwa level radiasi di sebelah bangunan mesin Unit 1 telah meningkat dari 0,007 rem per jam menjadi 0,67 milirem per jam.

TEPCO mengumumkan keberhasilan proses venting kontainmen Unit 1 dan menyiapkan proses serupa untuk unit 2 dan 3. Venting bermanfaat menurunkan tekanan dalam kontainmen. Boric Acid dan air laut digunakan untuk mendinginkan reaktor Unit 1.

Seorang pejabat pemerintah menyatakan bahwa ledakan yang terjadi sebelumnya disebabkan akumulasi hidrogen yang bersatu dengan oksigen dalam ruang antara kontainmen dan struktur luar. Kontainmen primer tidak mengalami kerusakan.

UPDATE 5:00 P.M. EST

NEI telah menerbitkan lembaran fakta "Events at the Fukushima Daiichi Nuclear Power Plant in Japan," untuk menyimpulkan peristiwa yang sedang berlangsung di PLTN Fukushima Daiichi.

UPDATE 7:30 P.M. EST

Laporan yang berlum dapat dikonfirmasi mengindikasikan bahwa kondisi darurat dinyatakan pada reaktor kedua PLTN Fukushima Daiichi.

The Associated Press and the Los Angeles Times melaporkan bahwa Badan Keselamatan Nucklir dan Industri Jepang (NISA) menyatakan pada Minggu pagi bahwa sistem pendingin Unit 3 mengalami malfungsi. Laporan tersebut menyatakan TEPCO telah meperingatkan NISA.

Mengklarifikasi laporan sebelumnya, Ichiro Fujisaki, Duta Besar Jepang untuk AS menyatakan tidak terjadi ledakan dalam kontainmen reaktor Fukushima Daiichi Unit 1. Fujisaki menyatakan kepada CNN bahwa operator sedang mengambil langkah untuk menstabilkan dua unit reaktor lain yang mengalami shut down pada PLTN tersebut. Ia mengkonfirmasi bahwa tidak ada dari keenam reaktor tersebut yang mengalami leleh teras (meltdown).

“Isu lain juga muncul terkait Unit 1. Kami sedang melakukan proses venting untuk mengurangi uap dalam kontainmen agar tekanan berkurang,” demikian pernyataan Fujisaki, “Kami tidak melihat adanya bukti leleh teras. Kami akan meng-update isu terkait setiap jam.”

“Kami bekerja setiap menit dan detik untuk mampu mengendalikan kondisi ini,” kata Fujisaki, “Kami menginjeksi air dan mengeluarkan uap. Jumlah radioaktif berkurang. Kami melakukan semuanya dengan sangat hati-hati dan itu sangatlah penting.”

Fujisaki juga menyatakan Jepang berkonsultasi dengan beberapa negara sahabat untuk mengendalikan situasi. “Dalam situsasi seperti ini, yang paling penting adalah kecepatan dan mobilisasi seluruh kekuatan.”

TEPCO menyatakan tidak ada peningkatan level radiasi di sekitar fasilitas lain, PLTN Fukushima Daini yang juga ditutup setelah gempa.

“Tidak ada efek radiasi pada lingkungan eksternal, hal ini telah dikonfirmasi,” demikian pernyataan TEPCO terkait PLTN Fukushima Daini.

MINGGU

UPDATE 8:30 A.M. EDT,

TEPCO melanjutkan proses pendinginan darurat dan operasi pengendalian tekanan pada PLTN Fukushima Daiichi. Sebagai tambahan pada Fukushima Daini, tiga reaktor tetap dalam kondisi shut down. Mereka memiliki suplai tenaga listrik pada fasilitas Daini, namun kolam air yang digunakan untuk pendinginan reaktor mengalami saturasi.

Fukushima Daiichi: Terdapat kondisi darurat yang dinyatakan bagi Fukushima Daiichi Unit 1, 2 dan 3. Operator melakukan proses venting pada struktur kontainmen reaktor 1 dan 3. Reaktor 3 menggunakan bahan bakar mixed-fuel. Tenaga listrik tidak terdapat pada ketiga reaktor dan tidak terdapat cadangan daya pada Unit, 1, 2 dan 3. TEPCO telah memompa air laut ke dalam reaktor 1 dan 3 untuk mengendalikan pendinginan dan diduga terdapat kerusakan pada sebagian elemen bakar uranium pada kedua reaktor ini. Evakuasi publikdalam radius 20 kmtelah dilaksanakan dan terdapat pelepasan radiasi dalam jumlah rendah ke lingkungan sebagai akibat proses venting dan terjadi ledakan pada kontainmen sekunder Unit 1. Dosis maksimum pada fasilitas ini adalah 128 milirem per jam. Seorang pekerja radiasi mendapatkan paparan sebanyak 10,6 rem.

Fukushima Daini : terdapat kondisi darurat untuk Unit 1, 2 dan 4 dan evakuasi telah dilakukan untuk masyarakat dalam radius 2,5 mil dari PLTN. Tidak terdapat pelepasan radioaktif pada fasilitas ini. Terdapat tenaga liustrik untuk seluruh empat reaktor, namun terdapat keterbatasan penggunaan pompa air pendingin pada Unit 1, 2 dan 4 disebbakan kerusakan tsunami. Kolam pendingin mengalami saturasi pada ketiga reaktor.

Komentar dari Pejabat Jepang:

Operator menyediakan air laut dan boron untuk mendinginkan teras di Fukushima Daiichi Unit 1 dan 3 dan melakukan proses venting pada reaktor-reaktor tersebut. Yukio Edano, Sekretaris Kabinet Jepang menyatakan hal tersebut pada hari Minggu. Operator bertindak untuk mengantisipasi asumsi akan terjadinya leleh teras pada Unit 3. “Tidak seperti Unit 1, kami mengeluarkan uap dan menginjeksi air pada tahpan awal.” kata Edano.

Otoritas mempersiapkan pembagian iodium untuk melindungi masyarakat dari paparan radiasi.

UPDATE 12:30 P.M. EDT

NEI menerbitkan lembaran fakta "Radiation and the Japanese Nuclear Reactors," yang menjelaskan kejadian yang terjadi pada PLTN Fukushima Daiichi dan Daini di Jepang pasca gempa dan tsunami. Juga dipaparkan penjelasan nilai batas dosis dan paparan bagi pekerja dan masyarakat di AS.

UPDATE 5:00 P.M. EDT

NEI mengeluarkan 20 FAQ terkait situasi energi nuklir Jepang. FAQ menjelaskan usaha terkini yang sedang berlangsung di Jepang, termasuk informasi detail terkait desain raktor air mendidih (BWR) dan potensi efek industri nuklir AS.

UPDATE 7:00 P.M. EDT

Fukushima Daiichi

Ledakan hidrogen yang terjadi pada 11 Maret yang terjadi pada ruang antara bejana kontainmen primer dan bangunan kontainmen sekunder tidak merusak bejana kontainmen primer atau teras reaktor. Untuk mengendalikan tekanan teras reaktor, TEPCO mulai menginjeksi air laut dan boric acid ke dalam bejana kontainmen primer Unit 1 pada 12 Maret dan Unit 3 pada 13 Maret. Terdapat kemungkinan kerusakan elemen bahan bakar pada reaktor 1 dan 3.

Pada kedua raktor 1 dan 3, air laut dan boric acid diinjeksi dengan menggunakan pompa pemadam api. Pada reaktor 3, sebuah katup untuk kendali tekanan gagal membuka, namun dapat diatasi dengan menghubungkan tekanan udara ke sistem kendali operasi katup tersebut.

Level air pada bejana reaktor 2 masih stabil.

Personil dari TEPCO secara simultan melakukan monitoring status ketiga reaktor.

Level radiasi tertinggi yang tercatat di Fukushima Daiichi adalah 155,7 milirem pada pukul 13.52 waktu setempat tanggal 13 Maret. Tingkat ini kemudian turun menjadi 4,4 milirem pada malam harinya. Nilai batas dosis untuk masyarakat umum yang diacu NRC adalah 100 milirem per tahun.

Pemerintah Jepang menyatakan potensi leleh bahan bakar sebagian pada Fukushima Daiichi Unit 1 dan 3, namun tidak terdapat resiko ledakan teras, seperti yang terjadi pada Chernobyl tahun 1986. Batang kendali telah berhasil dimasukkan pada seluruh reaktor, sehingga menghentikan reaksi berantai. Teras reaktor Fukushima Daiichi dan Daini diklindungi oleh bejana kontainmen baja dan beton setebal 40 hingga 80 inchi yang didesain untuk mengungkung material radioaktif.

Fukushima Daini

PLTN Fukushima Daini tetap dalam kondisi darurat. Terdapat daya listrik pada keempat reaktor PLTN ini, namun demikian terdapat keterbatasan pada pompa air pendingin reaktor 1, 2 dan 4.

TEPCO berusaha untuk mempertahankan pendinginan konstan dalam bejana kontainmen primer reaktor-reaktor tersebut. Tidak terdapat radioaktivitas yang tercatat di luar bangunan kontainmen sekunder Fukushima Daini.

Dua PLTN lain di wilayah Tohoku, yaitu PLTN Onagawa dan PLTN Tokai, mengalami shut down otomatis sebagai respon terhadap gempa. Keempat reaktor pada PLTN ini memiliki sistem pendingin yang berfungsi normal dan dalam proses pemantauan operator.

Pusat Pengolahan Ulang Rokkasho dan fasilitas pendukungnya yang terletak pada utara zona tsunami di Rokkasho beroperasi dengan aman menggunakan sistem pembangkit daya cadangan.

Fasilitas nuklir Jepang dirancang untuk tahan terhadap kejadian sismik yang kuat, seperti gempa bumi. Dalam peristiwa gempa bumi ini – yang tercatat sebagai yang terkuat dalam 100 tahun terakhir di Jepang – struktur kontainmen pada Fukushima Daiichi berhasil mempertahankan integritas strukturalnya. Fasilitas ini didesain untuk tahan terhadap tsunami dalam jangkauan yang diperkirakan; namun bagaimanapun tsunami yang terjadi pada 10 Maret melampaui batas yang telah diperkirakan dan membanjiri generator diesel pada PLTN Fukushima Daiichi. Hal ini memicu terjadinya kehilangan daya pada sistem pendingin reaktor.

Shutdown otomatis pada 11 reaktor yang beroperasi pada PLTN Onagawa, Tokai, Fukushima Daiichi dan Daini mengakibatkan kehilangan 3,5% kapasitas pembangkitan listrik di seluruh Jepang.

UPDATE 11:30 P.M. EDT

Pada pukul 11.01 EDT, Tokyo Electric Power Co. menyatakan bahwa ledakan terjadi pada Fukushima Daiichi Unit 3. Dinding bangunan reaktor dan atap meledak. TEPCO menyatakan bahwa ledakan dipicu oleh hidrogen sama seperti yang terjadi sebelumnya pada Unit 1 di hari Jum’at, namun belum terdapat pihak yang bisa dikonfirmasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar