Pencarian Ilmu (Isi langsung tekan "Enter")

Tampilkan postingan dengan label Teknologi Nuklir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi Nuklir. Tampilkan semua postingan

Reaktor Nuklir : Dari Generasi Ke Generasi

Seperti halnya teknologi yang lain, teknologi reaktor nuklir pun terus berkembang. Ada 4 generasi Reaktor Nuklir. Berikut adalah perbandingan keempat Reaktur Nuklir yang ada saat ini. Selamat memahami...


Nuclear Reactors

Kronologi Krisis PLTN Fukushima Jepang

NUCLEAR ENERGY INSTITUTE (NEI)

PRESS RELEASE

JUM’AT

UPDATE PUKUL 8 A.M. EST

Gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter (SR) mengguncang Jepang pada 11 Maret 2011 pukul 14.46, berpusat di lepas pantai wilayah Sendai, dimana ibukota Tokyo berada. Kejadian ini diikuti efek sekunder berupa tsunami dan kebakaran hebat pada fasilitas bahan bakar fosil. Gempa terjadi hanya 2 hari setelah gempa berkekuatan 7,3 SR mengguncang lepas pantai pada wilayah tersebut.

Japan Atomic Industry Forum (JAIF) mengeluarkan pernyataan bahwa 11 reaktor nuklir yang terletak pada wilayah timur laut Jepang yang saat itu beroperasi telah berhenti beroperasi (shut-down) secara otomatis. Nuclear and Industrial Safety Agency (NISA) juga menyatakan hingga pukul 15.16 waktu setempat tidak ada laporan kerusakan pada fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan menngeluarkan pernyataan pada televisi bahwa tidak ada indikasi pelepasan radioaktif.

Tokyo Electric Power Company (TEPCO) menyatakan bahwa generator diesel darurat berfungsi seperti yang diharapkan, namun kemudian berhenti setelah bekerja satu jam dan seluruh daya darurat yang dibutuhkan hilang, yang memicu mereka untuk memperingatkan pemerintah potensi situasi “darurat”, dimana otoritas lokal dapat mengambil tindakan yang dibutuhkan terhadap komunitas sekitar dan mengevakuasi mereka jika dibutuhkan. Sekitar sembilan jam setelah itu, Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI) menyatakan tiga dari empat modul power supply mobile sudah sampai pada lokasi pembangkit untuk menyuplai daya darurat yang dibutuhkan dan para petugas mulai menghubungkan sistem daya. Modul suplai lainnya dikirim melalui udara. NISA mencatat bahwa emisi dari exhaust stack (cerobong pengeluaran) menunjukkan tidak adanya peningkatan radioaktivitas.

Tohoku Electric Power Company juga melaporkan adanya kebakaran pada bangunan turbin (non nuklir) pada PLTN Onagawa Unit 1.

Peringatan tsunami dikeluarkan untuk seluruh wilayah Lautan Pasifik, termasuk Taiwan dimana beroperasi enam reaktor nuklir. Tidak ada ancaman tsunami bagi PLTN di wilayah Korea Selatan dan Cina.

UPDATE PUKUL 5 P.M.

Tekanan di dalam kontainmen Unit 1 PLTN Fukushima Daiichi dilaporkan meningkat sejak sistem pendingin reaktor darurat tidak aktif. TEPCO melaporkan pada pukul 02.00 watu setempat tekanan meningkat melebihi level referensi pembangkit, namun masih dalam batas toleransi engineering. Perusahaan menyatakan akan mengurangi tekanan dalam kontainmen “untuk unit-unit yang tidak dapat menjamin level air yang ditentukan” dengan sistem keselamatan. “Kami akan mengontrol unit-unit tersebut dan melanjutkan monitoring lingkungan di sekitar fasilitas”, demikian dinyatakan press release TEPCO.

Federasi Perusahaan Listrik Jepang mengeluarkan pernyataan yang mengindikasikan bahwa “sedikit uap radioaktif akan dikeluarkan melalui sistem filter dan dikeluarkan melalui cerobong ventilasi.” TEPCO “yakin bahwa pelepasan terkendali ini akan membantu kestabilan bejana kontainmen reaktor sekaligus tidak menimbulkan efek pada kesehatan atau lingkungan.”

Setelah kejadian gempa Jepang, Pacific Gas & Electric mengumumkan peristiwa tidak biasa pada pembangkit Diablo Canyon, yang terletak dekat San Luis Obispo, California sebagai tindakan pencegahan bagi potensi bencana tsunami. “Seluruh sistem keselamatan pembangkit dan komponen berfungsi normal dan kedua unit saat ini beroperasi pada daya 100 persen”, demikian dilaporkan PG&E.

Southern California Edison menyatakan bahwa pembangkit San Onofre yang terletak di Pantai San Onofre, California tetap beroperasi dalam kondisi aman dan peringatan tsunami tetap berlaku pada wilayah tersebut. “Pembangkit San Onofre dilaporkan tidak mengalami anomali aktivitas”, demikian laporan perusahaan tersebut, “Seluruh operasi berlangsung normal. Sistem perlindungan pembangkit mencakup dinding beton 30 kaki di atas permukaan laut.”

SABTU

UPDATE 8 A.M. EST

NEI berkoordinasi dengan Institute of Nuclear Power Operations (INPO) dan Electric Power Research Institute (EPRI) pagi ini dan akan segera memberi update informasi terkait situasi di Jepang.

UPDATE 9:30 A.M. EST

TEPCO menyatakan telah berhasil mengeluarkan udara (vented) dari kontainmen PLTN Fukhusima-Daiichi Unit 1, berdasarkan sumber beberapa industri.

Sekretaris Kabinet Jepang, Yukio Edano menyatakan dalam konferensi pers bahwa telah terjadi ledakan pada PLTN Fukushima-Daiichi pada pukul 15.36 waktu setempat, namun ia menyatakan ledakan tersebut tidak mempengaruhi sistem primer reaktor maupun kontainmen, hal ini dilaporkan lembaga berita NucNet pagi ini.

Edano menyatakan bahwa terjadi ledakan hidrogen di ruang antara pengungkung beton dan sistem primer reaktor, namun ledakan ini tidak merusak fungsi pengungkung atau sistem reaktor. Sebagian dari bahan bakar dalam reaktor tidak tertutup air dan TEPCO menyuntikkan air laut serta boric acid untuk menanggulanginya. Pengukuran radiasi di sekitar fasilitas PLTN Fukushima Daiichi menunjukkan level radioaktivitas sebesar 1,1 milirem per jam, namun kemudian turun menjadi 7 milirem per jam beberapa jam setelah ledakan.

TEPCO juga menyiapkan proses venting (pengeluaran uap) dari struktur kontainmen Fukushima Daiichi 2 dan 3, pada hari Sabtu.

Edano menyatakan, “Kami telah mendapatkan konfirmasi bahwa kontainer reaktor tidak mengalami kerusakan. Ledakan tidak terjadi di dalam kontainer reaktor. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada radiasi dalam jumlah besar yang bocor keluar.”

Pemerintah Jepang memperluas wilayah evakuasi menjadi 20 km atau 12 mil dari sekitar fasilitas PLTN.

Generator diesel cadangan dan baterai cadangan tiba di reaktor Fukushima Daiichi.

AS membantu Jepang dalam mengatasi peristiwa PLTN dan gempa termasuk asistensi dari industri dan US NRC (Komisi Pengawas Nuklir AS).

TEPCO juga berusaha untuk menjaga kondisi aman pada PLTN Fukushima Daini Unit 1, 2 dan 3 yang mengalami kehilangan fungsi kendali tekanan.

Fasilitas nuklir ini mengalami kerusakan pasca gempa berkekuatan 8,9 SR pada 11 Maret yang berpusat di lepas pantai wilayah Sendai, dimana ibukota Tokyo berada. Efek sekunder serius terjadi termasuk tsunami besar, kerusakan gempa yang signifikan dan kebakaran hebat pada instalasi bahan bakar fosil.

UPDATE 12:30 P.M. EST

Insiden pada PLTN Fukushima Daiichi digolongkan pada level 4 pada Skala Peristiwa Nuklir dan Radiologik Internasional (International Nuclear and Radiological Event Scale (INES)) berdasarkan standar dari International Atomic Energy Agency’s (IAEA) , lebih rendah dari peristiwa bencana Chernobyl 1986 (INES level 7) dan kecelakaan Three Mile Island 1979 (level 5).

Otoritas Jepang tidak memberikan pengukuran radiasi dalam laporan INES mereka kepada IAEA, namun operator PLTN TEPCO melaporkan bahwa level radiasi di sebelah bangunan mesin Unit 1 telah meningkat dari 0,007 rem per jam menjadi 0,67 milirem per jam.

TEPCO mengumumkan keberhasilan proses venting kontainmen Unit 1 dan menyiapkan proses serupa untuk unit 2 dan 3. Venting bermanfaat menurunkan tekanan dalam kontainmen. Boric Acid dan air laut digunakan untuk mendinginkan reaktor Unit 1.

Seorang pejabat pemerintah menyatakan bahwa ledakan yang terjadi sebelumnya disebabkan akumulasi hidrogen yang bersatu dengan oksigen dalam ruang antara kontainmen dan struktur luar. Kontainmen primer tidak mengalami kerusakan.

UPDATE 5:00 P.M. EST

NEI telah menerbitkan lembaran fakta "Events at the Fukushima Daiichi Nuclear Power Plant in Japan," untuk menyimpulkan peristiwa yang sedang berlangsung di PLTN Fukushima Daiichi.

UPDATE 7:30 P.M. EST

Laporan yang berlum dapat dikonfirmasi mengindikasikan bahwa kondisi darurat dinyatakan pada reaktor kedua PLTN Fukushima Daiichi.

The Associated Press and the Los Angeles Times melaporkan bahwa Badan Keselamatan Nucklir dan Industri Jepang (NISA) menyatakan pada Minggu pagi bahwa sistem pendingin Unit 3 mengalami malfungsi. Laporan tersebut menyatakan TEPCO telah meperingatkan NISA.

Mengklarifikasi laporan sebelumnya, Ichiro Fujisaki, Duta Besar Jepang untuk AS menyatakan tidak terjadi ledakan dalam kontainmen reaktor Fukushima Daiichi Unit 1. Fujisaki menyatakan kepada CNN bahwa operator sedang mengambil langkah untuk menstabilkan dua unit reaktor lain yang mengalami shut down pada PLTN tersebut. Ia mengkonfirmasi bahwa tidak ada dari keenam reaktor tersebut yang mengalami leleh teras (meltdown).

“Isu lain juga muncul terkait Unit 1. Kami sedang melakukan proses venting untuk mengurangi uap dalam kontainmen agar tekanan berkurang,” demikian pernyataan Fujisaki, “Kami tidak melihat adanya bukti leleh teras. Kami akan meng-update isu terkait setiap jam.”

“Kami bekerja setiap menit dan detik untuk mampu mengendalikan kondisi ini,” kata Fujisaki, “Kami menginjeksi air dan mengeluarkan uap. Jumlah radioaktif berkurang. Kami melakukan semuanya dengan sangat hati-hati dan itu sangatlah penting.”

Fujisaki juga menyatakan Jepang berkonsultasi dengan beberapa negara sahabat untuk mengendalikan situasi. “Dalam situsasi seperti ini, yang paling penting adalah kecepatan dan mobilisasi seluruh kekuatan.”

TEPCO menyatakan tidak ada peningkatan level radiasi di sekitar fasilitas lain, PLTN Fukushima Daini yang juga ditutup setelah gempa.

“Tidak ada efek radiasi pada lingkungan eksternal, hal ini telah dikonfirmasi,” demikian pernyataan TEPCO terkait PLTN Fukushima Daini.

MINGGU

UPDATE 8:30 A.M. EDT,

TEPCO melanjutkan proses pendinginan darurat dan operasi pengendalian tekanan pada PLTN Fukushima Daiichi. Sebagai tambahan pada Fukushima Daini, tiga reaktor tetap dalam kondisi shut down. Mereka memiliki suplai tenaga listrik pada fasilitas Daini, namun kolam air yang digunakan untuk pendinginan reaktor mengalami saturasi.

Fukushima Daiichi: Terdapat kondisi darurat yang dinyatakan bagi Fukushima Daiichi Unit 1, 2 dan 3. Operator melakukan proses venting pada struktur kontainmen reaktor 1 dan 3. Reaktor 3 menggunakan bahan bakar mixed-fuel. Tenaga listrik tidak terdapat pada ketiga reaktor dan tidak terdapat cadangan daya pada Unit, 1, 2 dan 3. TEPCO telah memompa air laut ke dalam reaktor 1 dan 3 untuk mengendalikan pendinginan dan diduga terdapat kerusakan pada sebagian elemen bakar uranium pada kedua reaktor ini. Evakuasi publikdalam radius 20 kmtelah dilaksanakan dan terdapat pelepasan radiasi dalam jumlah rendah ke lingkungan sebagai akibat proses venting dan terjadi ledakan pada kontainmen sekunder Unit 1. Dosis maksimum pada fasilitas ini adalah 128 milirem per jam. Seorang pekerja radiasi mendapatkan paparan sebanyak 10,6 rem.

Fukushima Daini : terdapat kondisi darurat untuk Unit 1, 2 dan 4 dan evakuasi telah dilakukan untuk masyarakat dalam radius 2,5 mil dari PLTN. Tidak terdapat pelepasan radioaktif pada fasilitas ini. Terdapat tenaga liustrik untuk seluruh empat reaktor, namun terdapat keterbatasan penggunaan pompa air pendingin pada Unit 1, 2 dan 4 disebbakan kerusakan tsunami. Kolam pendingin mengalami saturasi pada ketiga reaktor.

Komentar dari Pejabat Jepang:

Operator menyediakan air laut dan boron untuk mendinginkan teras di Fukushima Daiichi Unit 1 dan 3 dan melakukan proses venting pada reaktor-reaktor tersebut. Yukio Edano, Sekretaris Kabinet Jepang menyatakan hal tersebut pada hari Minggu. Operator bertindak untuk mengantisipasi asumsi akan terjadinya leleh teras pada Unit 3. “Tidak seperti Unit 1, kami mengeluarkan uap dan menginjeksi air pada tahpan awal.” kata Edano.

Otoritas mempersiapkan pembagian iodium untuk melindungi masyarakat dari paparan radiasi.

UPDATE 12:30 P.M. EDT

NEI menerbitkan lembaran fakta "Radiation and the Japanese Nuclear Reactors," yang menjelaskan kejadian yang terjadi pada PLTN Fukushima Daiichi dan Daini di Jepang pasca gempa dan tsunami. Juga dipaparkan penjelasan nilai batas dosis dan paparan bagi pekerja dan masyarakat di AS.

UPDATE 5:00 P.M. EDT

NEI mengeluarkan 20 FAQ terkait situasi energi nuklir Jepang. FAQ menjelaskan usaha terkini yang sedang berlangsung di Jepang, termasuk informasi detail terkait desain raktor air mendidih (BWR) dan potensi efek industri nuklir AS.

UPDATE 7:00 P.M. EDT

Fukushima Daiichi

Ledakan hidrogen yang terjadi pada 11 Maret yang terjadi pada ruang antara bejana kontainmen primer dan bangunan kontainmen sekunder tidak merusak bejana kontainmen primer atau teras reaktor. Untuk mengendalikan tekanan teras reaktor, TEPCO mulai menginjeksi air laut dan boric acid ke dalam bejana kontainmen primer Unit 1 pada 12 Maret dan Unit 3 pada 13 Maret. Terdapat kemungkinan kerusakan elemen bahan bakar pada reaktor 1 dan 3.

Pada kedua raktor 1 dan 3, air laut dan boric acid diinjeksi dengan menggunakan pompa pemadam api. Pada reaktor 3, sebuah katup untuk kendali tekanan gagal membuka, namun dapat diatasi dengan menghubungkan tekanan udara ke sistem kendali operasi katup tersebut.

Level air pada bejana reaktor 2 masih stabil.

Personil dari TEPCO secara simultan melakukan monitoring status ketiga reaktor.

Level radiasi tertinggi yang tercatat di Fukushima Daiichi adalah 155,7 milirem pada pukul 13.52 waktu setempat tanggal 13 Maret. Tingkat ini kemudian turun menjadi 4,4 milirem pada malam harinya. Nilai batas dosis untuk masyarakat umum yang diacu NRC adalah 100 milirem per tahun.

Pemerintah Jepang menyatakan potensi leleh bahan bakar sebagian pada Fukushima Daiichi Unit 1 dan 3, namun tidak terdapat resiko ledakan teras, seperti yang terjadi pada Chernobyl tahun 1986. Batang kendali telah berhasil dimasukkan pada seluruh reaktor, sehingga menghentikan reaksi berantai. Teras reaktor Fukushima Daiichi dan Daini diklindungi oleh bejana kontainmen baja dan beton setebal 40 hingga 80 inchi yang didesain untuk mengungkung material radioaktif.

Fukushima Daini

PLTN Fukushima Daini tetap dalam kondisi darurat. Terdapat daya listrik pada keempat reaktor PLTN ini, namun demikian terdapat keterbatasan pada pompa air pendingin reaktor 1, 2 dan 4.

TEPCO berusaha untuk mempertahankan pendinginan konstan dalam bejana kontainmen primer reaktor-reaktor tersebut. Tidak terdapat radioaktivitas yang tercatat di luar bangunan kontainmen sekunder Fukushima Daini.

Dua PLTN lain di wilayah Tohoku, yaitu PLTN Onagawa dan PLTN Tokai, mengalami shut down otomatis sebagai respon terhadap gempa. Keempat reaktor pada PLTN ini memiliki sistem pendingin yang berfungsi normal dan dalam proses pemantauan operator.

Pusat Pengolahan Ulang Rokkasho dan fasilitas pendukungnya yang terletak pada utara zona tsunami di Rokkasho beroperasi dengan aman menggunakan sistem pembangkit daya cadangan.

Fasilitas nuklir Jepang dirancang untuk tahan terhadap kejadian sismik yang kuat, seperti gempa bumi. Dalam peristiwa gempa bumi ini – yang tercatat sebagai yang terkuat dalam 100 tahun terakhir di Jepang – struktur kontainmen pada Fukushima Daiichi berhasil mempertahankan integritas strukturalnya. Fasilitas ini didesain untuk tahan terhadap tsunami dalam jangkauan yang diperkirakan; namun bagaimanapun tsunami yang terjadi pada 10 Maret melampaui batas yang telah diperkirakan dan membanjiri generator diesel pada PLTN Fukushima Daiichi. Hal ini memicu terjadinya kehilangan daya pada sistem pendingin reaktor.

Shutdown otomatis pada 11 reaktor yang beroperasi pada PLTN Onagawa, Tokai, Fukushima Daiichi dan Daini mengakibatkan kehilangan 3,5% kapasitas pembangkitan listrik di seluruh Jepang.

UPDATE 11:30 P.M. EDT

Pada pukul 11.01 EDT, Tokyo Electric Power Co. menyatakan bahwa ledakan terjadi pada Fukushima Daiichi Unit 3. Dinding bangunan reaktor dan atap meledak. TEPCO menyatakan bahwa ledakan dipicu oleh hidrogen sama seperti yang terjadi sebelumnya pada Unit 1 di hari Jum’at, namun belum terdapat pihak yang bisa dikonfirmasi.

Frequently Asked Chernobyl Questions

On April 26, 1986, the Number Four RBMK reactor at the nuclear power plant at Chernobyl, Ukraine, went out of control during a test at low-power, leading to an explosion and fire that demolished the reactor building and released large amounts of radiation into the atmosphere. Safety measures were ignored, the uranium fuel in the reactor overheated and melted through the protective barriers. RBMK reactors do not have what is known as a containment structure, a concrete and steel dome over the reactor itself designed to keep radiation inside the plant in the event of such an accident. Consequently, radioactive elements including plutonium, iodine, strontium and caesium were scattered over a wide area. In addition, the graphite blocks used as a moderating material in the RBMK caught fire at high temperature as air entered the reactor core, which contributed to emission of radioactive materials into the environment.


FAQ PLTN - Bagian 2

Apakah dengan PLTN dapat dijamin listrik tidak akan pernah mati?

Kapasitas produksi listrik PLTN mencapai 1.600 MWe. Kapasitas itu jauh lebih besar dibandingkan dengan pembangkit listrik dari sumber energi lainnya yang biasanya kurang dari 1.000 MWe. Dengan membangun 10 unit saja, maka seluruh kebutuhan listrik di pulau Jawa saat ini sudah bisa terpenuhi tanpa sumbangan dari sumber energi lainnya.

PLTN hanya memerlukan penggantian bahan bakar setiap 18 bulan sekali dan bisa menyimpan stok hingga beberapa tahun ke depan. Hal ini sangat berbeda dibandingkan dengan PLTU batubara yang setiap saat harus ada suplai bahan bakar dan hanya bisa menyimpan stok selama 12 hari saja.

Salah satu penyebab pembangkit listrik mati adalah karena kekurangan suplai bahan bakar. Suplai bahan bakar akan sangat tergantung pada masalah cuaca yang seringkali sulit diprediksi. Untuk PLTN, kendala dalam suplai bahan bakar akan diminimalisir karena periode penggantian yang panjang.


Apa keuntungan masyarakat bila dibangun PLTN?

Secara ekonomi, proyek pembangunan PLTN melibatkan sumber daya manusia dan pendanaan yang cukup besar. Pada saat pembangunan fisik, SDM yang dibutuhkan kurang lebih sebanyak 6.000 orang yang terdistribusi pada jenis pekerjaan sipil, elektrik, mekanik, dan manajemen. Sedangkan setelah siap beroperasi, dibutuhkan sekitar 200 orang. Pembangunan PLTN membutuhkan waktu sekitar 6-8 tahun. Hal ini bisa dimanfaatkan secara ekonomi bagi masyarakat sekitar proyek dengan membuka usaha dalam berbagai bidang, misalnya membuka rumah makan, pakaian, bahan bangunan atau dengan menyediakan tempat tinggal untuk para pekerja.

Dengan adanya PLTN, maka infrastruktur di sekitar PLTN seperti jalan, sekolah dan fasilitas umum lainnya pasti akan dibangun lebih baik dan lebih lengkap.

Keuntungan jangka panjang pada tingkat nasionaladalah mendorong tumbuhnya investasi baru karena adanya kecukupan listrik untuk menjalankan usahanya. Selain itu, PLTN menhasilkan daya listrik yang cukup besar dengan harga yang relatif rendah, makan akan mendorong harga komoditas menjadi lebih murah.

Berdasarkan pengalaman dari negara-negara yang telah memanfaatkan listrik dari PLTN, makaharga listrik relatif lebih stabil bahkan cenderung turun.


Apa bahan baku yang digunakan untuk PLTN?

Jika PLTU menggunakan minyak atau batubara dalam menghasilkan tenaga listrik , PLTN menggunakan uranium sebagai bahan bakarnya. Uranium merupakan salah satu unsur yang ada di alam dan banyak terdapat di lapisan kulit Bumi. Ia bersifat radioaktif sehingga mampu memancarkan radiasi dan pada batas waktu tertentu sifat pemancarannya akan berhenti dan menjadi stabil.

Apakah bahan bakar PLTN tersedia di Indonesia?

Berdasarkan hasil penelitian, di berbagai wilayah Indonesia, yaitu pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Papua, ditemukan potensi uranium yang cukup besar. Kegiatan penyelidikan yang mendalam telah dilakukan di pulau Kalimantan dan berhasil menemukan satu lokasi di Kalimantan Barat, yaitu di desa Kalan dengan kandungan uranium alam sekitar 24.000 ton. Selain itu, ditemukan juga beberapa indikasi cebakan uranium dan thorium di Sulawesi, Papua, dan Sumatera yang cukup menjanjikan.

Dengan kandungan uranium sebesar itu, dapat dipastikan mampu menyuplai bahan bakar ke 7 sampai 10 PLTN dalam masa operasi 40 tahun.


Apakah Indonesia mampu mengolah sendiri?

Pengolahan uranium dari bahan alam menjadi bahan bakar PLTN dibutuhkan penguasaan teknologiyang cukup tinggi seperti proses pemurnian, pengayaan, dan fabrikasi uranium. Penguasaan teknologi telah dilakukan selama puluhan tahun untuk tujuan penelitian di kawasan penelitian BATAN di Puspiptek Serpong. Untuk itu, tak perlu diragukan lagi bahwa bangsa Indonesia mampu mengolah sendiri teknologi nuklirnya.

Balada Kecoa Dan Radiasi Nuklir

Kecoa yang malang dan hina dina. Kemana pun ia pergi, kehadirannya tak diinginkan, dikejar oleh sepatu bermerek dan gulungan majalah dari satu sudut bumi ke sudut bumi yang lain. Tetapi, sejujurnya, kita harus tetap memuji mereka. Kenapa? Karena mereka bisa bertahan terhadap radiasi ledakan bom nuklir.

Manusia yang terkena radiasi lebih dari 800 REM (REM adalah dosis radiasi yang akan menyebabkan sejumlah tertentu kerusakan pada jaringan mahluk hidup) kemungkinan besar akan meninggal. Sedangkan, bagi kecoa dosis REM sebesar itu tak berarti apa-apa karena dosis REM untuk mematikan kecoa Amerika adalah 67.500 REM dan dibutuhkan 100.000 REM untuk menghentikan langkah kecoa Jerman.

Ada alasan sederhana mengapa kecoa (dan serangga lain) kurang rentan terhadap radiasi dibandingkan manusia (atau mahluk hidup lain), yaitu : Kesederhanaan. Pada dasarmya, semakin kompleks suatu organisme, maka semakin rentan ia terhadap efek radiasi karena semakin banyak susunan kompleks yang menjadi kacau. Selain itu, dengan masa hidup yang pendek, maka kecoa tidak punya cukup waktu untuk mengalami kanker akibat akumulasi paparan radiasi yang diterimanya.

FAQ PLTN - Bagian 1


Apa PLTN itu?

PLTN atau Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir adalah jenis pembangkit listrik yang menggunakan tenaga nuklir sebagai sumber pembangkit panas. PLTN lahir di Amerika Serikat tahun 1942 menjelang pecahnya Perang Dunia II. Mulai diperkenalkan pada pertengahan tahun 1950-an oleh negara-negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Sovyet. Pemanfaatan tenaga nuklir untuk pembangkit listrik ini adalah hasil pemikiran dari para penemu reaksi nuklir yang merasa prihatin dan tidak menginginkan lagi hasil penemuannya hanya dimanfaatkan untuk perang. Kemudian PLTN berkembang pesat baik dari teknologi maupun jumlah unit yang dibangun.


Apa bedanya PLTN dengan pembangkit listrik lainnya?

Secara prinsip, PLTN tidak berbeda dengan pembangkit listrik lainnya. Contohnya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan bahan bakar minyak atau batubara. Pada PLTU, listrik dihasilkan dengan cara membakar minyak dan batubara. Selanjutnya panas dari pembakaran tersebut digunakan untuk mendidihkan air dan menghasilkan uap. Hingga pada tahap ini prosesnya mirip dengan ibu-ibu pada waktu memasak air di daour untuk membuat minuman kopi atau the. Sedangkan pada pembangkit listrik, uap yang dihasilkan digunakan untuk memutar turbin. Perputaran turbin ini kemudian digunakan memutar dynamo atau generator hingga menghasilkan listrik.

Gambaran secara mudah, seperti terlihat pada lampu sepera. Untuk menyalakan lampu maka sepeda harus ditempelkan pada roda maka lampu akan menyala.

Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) prosesnya sedikit berbeda. Untuk mendapatkan listrik maka tidak perlu membakar sesuatu tetapi cukup mengalirkan air pada kincir atau turbin dan putarannya dapat digunakan untuk menggerakkan dynamo dan menghasilkan listrik.


Mengapa harus membangun PLTN?

Listrik merupakan kebutuhan dasar manusia. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk dan tingkat ekonominya, serta tuntutan kualitas hidup, maka semakin banyak peralatan atau teknologi yang memanfaatkan listrik seperti peralatan rumah tangga.

Dengan pertumbuhan kebutuhan listrik yang mencapai 9% setiap tahun, maka diperlukan tambahan pembangkit sesuai dengan besarnya kebutuhan. Dari segi teknis maupun ekonomi, PLTN mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Teknologi PLTN saat ini bisa mencapai daya listrik hingga 1.600 MWe per unit, hal yang tidak mungkin dimiliki teknologi pembangkit listrik lainnya, sehingga untuk memenuhi kebutuhan listrik yang besar hanya diperlukan membangun beberapa unit.

Pemanasan global sebagai akibat meningkatnya gas rumah kaca menjadi perhatian Negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Uapay pemanfaatan energi bersih juga semakin meningkat. PLTN adalah salah satu pembangkit listrik yang tidak menghasilkan emisi.


Mengapa harus menggunakan tenaga nuklir, sementara sumber energi lain masih banyak, misalnya matahari, angin, panas bumi, biodiesel?

Untuk memenuhi kebutuhan listrik hingga tahun 2025 yang diperkirakan akan mencapai tiga kali lipat dibanding saat ini maka tidak dapat hanya mengandalkan minyak bumi, batu bara dan air. Minyak bumi memangharganya sudah turun tetapi tidak menjamin dalam jangka panjang tidak akan naik. Selain itu, cadangannya di Indonesia tidak banyak. Oleh karena itu, perlu diupayakan untuk meningkatkan peran batubara, gas, dan energi baru jangka panjang.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006, pemerintah telah menetapkan penggunaan berbagai sumber energi hingga 2025, yaitu minyak bumi paling banyak 20%, gas bumi dan batubara masing-masing 30% dan 33%, sedangkan panas bumi dan bahan nabati masing-masing paling sedikit 5%, energi baru dan terbarukan lainnya (mikrohidro, biomassa, nuklir, angin, surya) 5% dan batu bara yang dicairkan 2%

Komposisi tersebut disusun berdasarkan hasil studi cadangan energi di seluruh Indonesia yang dilakukan pada tahun 2002 oleh tim nasional yang beranggotakan dari lembaga pemerintah, swasta, dan LSM dengan supervisi dari lembaga internasional IAEA. Jelas terlihat bahwa sumber energi yang dimiliki akan dikembangkan bersama-sama secara proporsional.

Batubara meskipun harganya murah, namun perlu dipertimbangkan dari segi daya dukung lingkungan bila akan dibangun di Jawa. Selain itu, transportasi batubara dari lokasi penambangan ke lokasi pembangkit juga dipengaruhi faktor cuaca.


Bagaimana dengan tingkat keekonomian PLTN?

Apabila dibandingkan dnegan listrik PLTU batubara, maka harga listrik dari PLTN dapat bersaing. Saat ini, harga listrik per KWh dari tenaga nuklir mencapai 3,7 – 5,0 cent $, gas 5,8 – 7,2 cent $, dan batubara 3,5 – 5,2 cent $. Sedangkan harga listrik dari sumber energi lainnya masih relative tinggi, yaitu angin 7,4 cent $ dan panas bumi 9 cent $.

Pembangkitan listrik tenaga nuklir memiliki karakteristik khusus yaitu, ongkos produksinya semakin lama akan semakin menurun karena sebagian besar biayanya dikeluarkan pada saat pembangunan konstruksinya. Ongkos bahan bakar PLTN hanya sekitar 10% dari seluruh biaya pembangkitan, sedangkan PLTU batubara dan minyak bisa mencapai 60%. Hal ini karena penggunaan bahan bakar PLTN sangat efisien dan harganya pun cukup stabil, tidak seperti halnya minyak dan batubara yang sangat tergantung dari suhu politik internasional.

Sumber :


Pertanyaan Yang Sering Muncul Seputar PLTN

Membelah Massa Menuai Energi

Prinsip Dasar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Teori Einstein tentang kesetaraan massa dan energi telah membuka kemungkinan baru untuk memperoleh energi dari pemecahan atau penggabungan massa. Rumus kesetaraan dari Einstein yang sangat sederhana dan terkenal menyatakan bahwa energi sama dengan massa dikalikan dengan kuadrat kecepatan cahaya. Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) adalah salah satu hasil teknologi yang dibuat berdasarkan teori Einstein tersebut.

Prinsip dasar PLTN

Pada dasarnya PLTN beroperasi dengan prinsip yang sama seperti pembangkit listrik konvensional, tetapi dengan perbedaan pada cara pembangkitan panas untuk menghasilkan uap. Pada pembangkit listrik konvensional, panas dihasilkan dari pembakaran bahan fosil (minyak, batubara, gas), sedang pada PLTN panas dihasilkan dari reaksi pembelahan inti atom bahan bakarnya (Uranium) di dalam reaktor nuklir. Panas yang dihasilkan digunakan untuk membangkitkan uap di dalam alat pembangkit uap dan kemudian, sama seperti pada pembangkit konvensional, uap digunakan untuk menggerakkan turbin dan generator untuk menghasilkan listrik. Dalam membangkitkan listrik, PLTN tidak membebaskan asap atau debu yang mengandung logam berat atau CO2, SO2, NOx ke lingkungan.

Gambar di bawah ini menunjukkan skema prinsip pengoperasian PLTN jenis reaktor tekan (PWR).


Pembelahan Inti

Seperti sudah disebutkan di atas, panas untuk membangkitkan uap dalam PLTN didapatkan dari proses pembelahan inti. Gambar di bawah ini menunjukkan proses pembelahan inti. Bila sebuah partikel neutron berhasil masuk ke dalam inti atom bahan bakar Uranium, maka inti Uranium menjadi lebih tidak stabil dan akibatnya mengalami pembelahan. Hasil dari pembelahan ini adalah dua buah atom materi yang lain, 2 sampai 3 buah neutron baru dan energi. Total massa seluruh materi yang terbentuk sesudah terjadinya pembelahan inti atom Uranium lebih kecil daripada sebelum terjadi pembelahan. Selisih massa inilah yang berubah menjadi energi. Neutron baru yang terbentuk setelah pembelahan inti dapat menumbuk inti atom Uranium lain dan seterusnya menghasilkan atom materi lain, 2-3 buah neutron baru dan energi. Demikian seterusnya sehingga terbentuklah sebuah reaksi berantai. Satu gram Uranium akan dapat menghasilkan daya sebesar 1 juta watt selama 1 hari. Seandainya sebuah rumah menggunakan energi sebesar 1000 kilowatt-jam dalam sehari, maka energi yang dihasilkan 1 gram Uranium dapat digunakan selama sekitar 24 hari.



Agar reaksi berantai tidak berkembang menjadi tidak terkendali, seperti halnya bom atom, maka digunakanlah bahan kendali, antara lain terbuat dari cadmium, untuk membuat reaksi berantai berjalan stabil dan terkendali.

Neutron baru hasil pembelahan memiliki kecepatan yang sangat tinggi, karena itu agar dapat lebih mudah masuk ke dalam inti atom neutron ini harus diperlambat. Bahan yang sering digunakan sebagai pelambat atau moderator adalah air biasa yang telah dihilangkan mineralnya. Bisa juga digunakan air berat, atau grafit sebagai moderator sesuai dengan jenis bahan bakarnya.

Panas yang dihasilkan di dalam bahan bakar uranium sangat tinggi. Jika tidak dilakukan pendinginan maka bahan bakar bisa mengalami kerusakan atau meleleh. Ada beberapa jenis bahan yang biasanya dipakai sebagai pendingin, misalnya air ringan, air berat, logam natrium cair, dan gas. Pemilihan jenis pendingin bergantung juga kepada jenis bahan bakarnya.


Pemenuhan Energi

Indoneseia yang dulu kaya dengan sumber energi, kini tidak lagi demikian. Sumber daya minyak bumi Indonesia sekitar 321 miliar barrel (1,2 persen potensi dunia), gas bumi sekitar 507 TSCF (3,3 persen potensi dunia), batu bara sekitar 50 miliar ton (3 persen potensi dunia), panas bumi sekitar 27.000 MW (40 persen potensi dunia), dan tenaga air sekitar 75.000 MW (0,02 persen potensi dunia). Cadangan terbukti minyak bumi pada tahun 2002 sekitar 5 miliar barrel, cadangan terbukti gas bumi sekitar 90 TSCF, dan cadangan terbukti batu bara sekitar 5 miliar ton.

Dengan tingkat produksi seperti pada tahun 2002, dan bila tidak ada cadangan terbukti baru, cadangan minyak bumi akan habis dalam waktu 10 tahun, gas bumi 30 tahun, dan batu bara 50 tahun. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Kongres I Organisasi Profesi Praktisi Akuntansi Sumber Daya Alam dan Lingkungan di Baturaden, 12 Desember lalu, memperkirakan cadangan minyak bumi kita hanya dapat mencukupi kebutuhan hingga tujuh tahun ke depan. Bagaimana kita memenuhi kebutuhan energi nantinya?

Jika kita terus menggunakan bahan bakar fosil, maka kita akan terus bergantung kepada negara produsen, dan untuk membelinya dibutuhkan devisa yang besar. Salah satu cara yang memungkinkan adalah pemanfaatan PLTN. Dengan kebutuhan bahan bakar yang tidak terlalu besar dan frekuensi penggantian yang panjang, maka PLTN dapat dianggap sebagai sumber energi semi-domestik. Dengan tingkat keselamatan yang semakin baik sejak terjadinya kecelakaan di Three Mile Island dan Chernobyl, maka kekuatiran akan terjadinya kecelakaan dapatlah dikurangi. Dengan beberapa faktor di atas dan faktor lain lagi, maka PLTN memiliki potensi untuk menjadi salah satu penghasil energi untuk menunjang pembangunan Indonesia.

Artikel ditulis oleh Sudi Ariyanto yang merupakan peneliti dari BATAN