Pencarian Ilmu (Isi langsung tekan "Enter")

FAQ PLTN - Bagian 1


Apa PLTN itu?

PLTN atau Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir adalah jenis pembangkit listrik yang menggunakan tenaga nuklir sebagai sumber pembangkit panas. PLTN lahir di Amerika Serikat tahun 1942 menjelang pecahnya Perang Dunia II. Mulai diperkenalkan pada pertengahan tahun 1950-an oleh negara-negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Sovyet. Pemanfaatan tenaga nuklir untuk pembangkit listrik ini adalah hasil pemikiran dari para penemu reaksi nuklir yang merasa prihatin dan tidak menginginkan lagi hasil penemuannya hanya dimanfaatkan untuk perang. Kemudian PLTN berkembang pesat baik dari teknologi maupun jumlah unit yang dibangun.


Apa bedanya PLTN dengan pembangkit listrik lainnya?

Secara prinsip, PLTN tidak berbeda dengan pembangkit listrik lainnya. Contohnya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan bahan bakar minyak atau batubara. Pada PLTU, listrik dihasilkan dengan cara membakar minyak dan batubara. Selanjutnya panas dari pembakaran tersebut digunakan untuk mendidihkan air dan menghasilkan uap. Hingga pada tahap ini prosesnya mirip dengan ibu-ibu pada waktu memasak air di daour untuk membuat minuman kopi atau the. Sedangkan pada pembangkit listrik, uap yang dihasilkan digunakan untuk memutar turbin. Perputaran turbin ini kemudian digunakan memutar dynamo atau generator hingga menghasilkan listrik.

Gambaran secara mudah, seperti terlihat pada lampu sepera. Untuk menyalakan lampu maka sepeda harus ditempelkan pada roda maka lampu akan menyala.

Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) prosesnya sedikit berbeda. Untuk mendapatkan listrik maka tidak perlu membakar sesuatu tetapi cukup mengalirkan air pada kincir atau turbin dan putarannya dapat digunakan untuk menggerakkan dynamo dan menghasilkan listrik.


Mengapa harus membangun PLTN?

Listrik merupakan kebutuhan dasar manusia. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk dan tingkat ekonominya, serta tuntutan kualitas hidup, maka semakin banyak peralatan atau teknologi yang memanfaatkan listrik seperti peralatan rumah tangga.

Dengan pertumbuhan kebutuhan listrik yang mencapai 9% setiap tahun, maka diperlukan tambahan pembangkit sesuai dengan besarnya kebutuhan. Dari segi teknis maupun ekonomi, PLTN mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Teknologi PLTN saat ini bisa mencapai daya listrik hingga 1.600 MWe per unit, hal yang tidak mungkin dimiliki teknologi pembangkit listrik lainnya, sehingga untuk memenuhi kebutuhan listrik yang besar hanya diperlukan membangun beberapa unit.

Pemanasan global sebagai akibat meningkatnya gas rumah kaca menjadi perhatian Negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Uapay pemanfaatan energi bersih juga semakin meningkat. PLTN adalah salah satu pembangkit listrik yang tidak menghasilkan emisi.


Mengapa harus menggunakan tenaga nuklir, sementara sumber energi lain masih banyak, misalnya matahari, angin, panas bumi, biodiesel?

Untuk memenuhi kebutuhan listrik hingga tahun 2025 yang diperkirakan akan mencapai tiga kali lipat dibanding saat ini maka tidak dapat hanya mengandalkan minyak bumi, batu bara dan air. Minyak bumi memangharganya sudah turun tetapi tidak menjamin dalam jangka panjang tidak akan naik. Selain itu, cadangannya di Indonesia tidak banyak. Oleh karena itu, perlu diupayakan untuk meningkatkan peran batubara, gas, dan energi baru jangka panjang.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006, pemerintah telah menetapkan penggunaan berbagai sumber energi hingga 2025, yaitu minyak bumi paling banyak 20%, gas bumi dan batubara masing-masing 30% dan 33%, sedangkan panas bumi dan bahan nabati masing-masing paling sedikit 5%, energi baru dan terbarukan lainnya (mikrohidro, biomassa, nuklir, angin, surya) 5% dan batu bara yang dicairkan 2%

Komposisi tersebut disusun berdasarkan hasil studi cadangan energi di seluruh Indonesia yang dilakukan pada tahun 2002 oleh tim nasional yang beranggotakan dari lembaga pemerintah, swasta, dan LSM dengan supervisi dari lembaga internasional IAEA. Jelas terlihat bahwa sumber energi yang dimiliki akan dikembangkan bersama-sama secara proporsional.

Batubara meskipun harganya murah, namun perlu dipertimbangkan dari segi daya dukung lingkungan bila akan dibangun di Jawa. Selain itu, transportasi batubara dari lokasi penambangan ke lokasi pembangkit juga dipengaruhi faktor cuaca.


Bagaimana dengan tingkat keekonomian PLTN?

Apabila dibandingkan dnegan listrik PLTU batubara, maka harga listrik dari PLTN dapat bersaing. Saat ini, harga listrik per KWh dari tenaga nuklir mencapai 3,7 – 5,0 cent $, gas 5,8 – 7,2 cent $, dan batubara 3,5 – 5,2 cent $. Sedangkan harga listrik dari sumber energi lainnya masih relative tinggi, yaitu angin 7,4 cent $ dan panas bumi 9 cent $.

Pembangkitan listrik tenaga nuklir memiliki karakteristik khusus yaitu, ongkos produksinya semakin lama akan semakin menurun karena sebagian besar biayanya dikeluarkan pada saat pembangunan konstruksinya. Ongkos bahan bakar PLTN hanya sekitar 10% dari seluruh biaya pembangkitan, sedangkan PLTU batubara dan minyak bisa mencapai 60%. Hal ini karena penggunaan bahan bakar PLTN sangat efisien dan harganya pun cukup stabil, tidak seperti halnya minyak dan batubara yang sangat tergantung dari suhu politik internasional.

Sumber :


Pertanyaan Yang Sering Muncul Seputar PLTN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar